jump to navigation

SEANDAINYA SURABAYA JADI IBUKOTA NEGARA 23 Agustus 2008

Posted by aditcenter in ITS, KEAMANAN.
Tags: , , , ,
trackback

Mungkin sebagian besar orang-orang yang membaca tulisan tersebut akan heran. Ada apa sebenarnya? Apakah Surabaya mau “me-MERDEKA-kan” diri menjadi negara baru? Bukan…!!! Wacana itu muncul saat saya sedang “cangkruk” dengan rekan-rekan saya di Kantin Pusat ITS (Institut Teknologi 10 Nopember)

Awalnya kita memang membahas isu kenaikan harga BBm (walaupun agak basi), namun semakin ngelantur topik dfiskusi kita jadi semakin tidak menentu, semua hal dibahas. Mulai dari perkuliahan, pilgub Jatim, hingga masalah yang sering dibicarakan oleh kaum Adam (Apalagi kalau bukan wanita…Hehehe). Namun tiba-tiba rekan saya yang namanya Nukman Haris bilang seperti ini : “Aku bosen karo Jakarta…diluk-diluk geger, Lha nek ngono terus pemerintahan lak iso kacau, Aku pengen nek Ibukota Negara pindah nang Suroboyo wae…!” <indonesia: Aku bosan sama jakarta, Sering sekali ribut. Kalau begitu terus, pemerintahan bisa kacau. Aku inginnya kalau Ibukota negara pindah ke Surabaya saja>

Sejurus kemudian, kami bengong…. Apa orang ini mau membuat gerakan Separatis atau apa… Tetapi, setelah saya pikir2 lagi, ada beberapa alasan yang bisa dibenarkan dari statemen teman saya tadi, diantaranya :

1. Jakarta sudah over Crowded

Penduduk di Jakarta sudah mencapai 23 juta lebih…!!! merupakan jumlah penduduk yang cukup fantastis. mengingat luas Jakarta hanya 750km2, bisa dipastikan Jakarta ibaratnya seonggok gula yang dikerubuti oleh semut. Maklum, banyak orang yang bilang Jakarta itu kota harapan. Banyak orang2 kaya yang tinggal di Jakarta, karena dengan mengadu nasib di Jakarta bisa merubah nasib. Begitulah kata orang orang.

Lalu, apa dampaknya terhadap pemerintahan? Semakin banyak jumlah penduduk, maka tingkat kriminalitas juga semakin tinggi. desakan ekonomi yang menuntut seseorang untuk melakukan tindakan tidak Halal semakin memperkeruh suasana. Jika tingkat kriminalitas tinggi, maka yang disibukkan untuk menanggulanginya tentu saja dari aparat Kepolisian dan juga pemerintah.

Belum lagi jika terjadi demonstrasi besar2an dikalangan buruh, maka akan semakin mernambah ketidak stabilan perekonomian negara. Jalan jalan banyak yang macet. Bahkan, walaupun sudah dibangun jalur transportasi alternatif-pun, kemacetan sulit sekali untuk dielakkan. Nah, yang namanya macet tentu saja mengurangi mobilisasi penduduknya kan. Jika penduduk kurang mobile, maka kapan perekonomian akan tumbuh?

2. Jakarta sering ribut

Berbagai macam keributan sudah pernah terjadi di Jakarta. mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, perampokan, hingga skandal BLBI (hehehe maklum, BI kan adanya di Jakarta). dengan adanya keributan itu tentu dapat mengganggu kestabilitasan nasional. jika kestabilan nasional sudah terganggu, maka para investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Berbeda dengan di Surabaya, walaupun tetap ada keributan (sedikit) namun, kestabilan keamanan di Surabaya masih dapat terjaga. bahkan, konon saat peristiwa Mei 1998 Surabaya tetap Adem-ayem, padahal saat itu di Jakarta suasananya sedang mencekam. Oleh karena itu, wajar jika Surabaya dijadikan sebagai barometer keamanan naional.

3. Jakarta sering Banjir

Nah, kalau yang satu ini katanya sudah jadfi “Tamu Tahunan” buat jakarta. Bahkan, pada janji2 calon gubernur kemarin, saya rasa mustahil jika mereka mencanangkan program “Jakarta bebas banjir”. Hal ini memang sangat wajar, mengingat jumlah penduduk yan g amat padat. Sehingga daerah resapan air di konversi jadi tempat tinggal.

Belum lagi dengan adanya reklamasi laut di jakarta yang menggusur tanaman Bakau sebagai penahan gelombang. Lalu, kondisi geografis jakarta yang berada di dataran rendah, memungkinkan sekali jakarta menerimsa “Air Kiriman” dari daerah dataran tinggi yang mengelilinginya seperti Bogor, Bandung, dsb.

Kalau di Surabaya, walaupun masih ada banjir, namun masih bisa dikendalikan. Buktinya, setiap kali huan deras, beberapa saat setelah hujan reda air kembali surut. Dan iotulah yang membedakan kenyamanan tinggal di Jakarta dan Surabaya.

Need YOur Comment

NEED YOUR COMMENT


::
‘K

::
abeeayang& trade;

::
Achoey sang Khilaf

::
Akhmad Guntar

::
Al Jupri
::
Andy Prasetyo
::
Anti MLM
::
arif Rahman
::
AsruldinAzis
::
Ayos Purwo
::
Bonek Persebaya
::
Blogger IPB
::
Chichi
::
Det Deteksi
::
Enda Nasution
::
Erander
::
Faniez Ariasari
::
Kaum Pinggiran
::
Kevlanietzsche
::
Kidung jingga
::
Kiki Ahmadi
::
Kurtubi
::
Listiana Advokat
::
Menteri Desain
::
Miss Glasses
::
Muallaf
::
Novi Dut
::
Oppie
::
Panca
::
Pesta Rakyat
::
Presty
::
RausyanfikrBlog
::
Risdania
::
Risvank Artikel
::
Rita Subrata
::
Rulli P
::
software Islami
::
TommyDG
::
Wulan Belajar Nulis
::
Widjaya Nusantara
::
Yari NK
::
Yurike
::
Zazuli
::

Komentar»

1. aRuL - 24 Agustus 2008

Ibu kota pemerintahan di pindahkan ke daerah yang bukan kota aja, kalo ke kota2 besar lainnya, makin padat :D

Wah,kalo gitu kasian Presiden danAnggota dewan dong mas. Mereka tidak bisa belanja di Mall nanti… hehehehe

2. Bonek Persebaya - 24 Agustus 2008

Setuju… Sudah saatnya Ibukota Negara bukan lagi di jakarta, tapi di Surabaya….

Jangan takut dengan Bonek…

OK… Tapi jangan sampai bikin rusuh lagi yaaa…..

3. ma2nn-smile - 24 Agustus 2008

wah….bisa juga ya……
met ramadhan and keep smile….

Met Ramadhan juga neng…Kip smile too

4. septy - 24 Agustus 2008

he….ide bagus… tapi yang jelas, pada mau ga tuh…pejabat yg sudah nyaman bgt di jakarta :D

Nah iya itu masalahnya neng… kayaknya mereka ogah pindaj ke Surabaya. Takut di-keroyok sama Bonek… Hehehhe

5. Rita - 25 Agustus 2008

Cuma satu pertanyaan, apakah Surabaya, “tidak akan” menjadi menjadi seperti Jakarta seandainya Ibu Kota Negara pindah ke sana?:D

Untuk beberapa dasawarsa kedepan pasti bisa. Nanti kalau situasi Surabaya sudah akut seperti Jakarta,baru pindah ibukota lagi… Hehehdehe

6. Rully Patria - 26 Agustus 2008

wah.. klo boleh usul mending jangan deh..
cukup jakarta aja yg KACAU :D
ntar klo pindah makin banyak aja kota yang amburadullllLL

Wah…ntar kasihan dong Jakarta… Gimana kalo Ibukota Negara itu dibuat bergiliran, semacam tropi bergilir gitu…

7. cakdul - 28 Agustus 2008

gak perlu ibukotanya yang di pindah.. tapi pusat ekonomi bisnis hal hal penting yang tidak harus berpusat di suatu kota… karena bukan hanya untuk pemerataan pembangunan saja tapi kalo ada apa apa semisal ada serangan bom bunuh diri lagi.. kan gak semuanya mati… masih ada surabaya sebagai pusat ekonomi… ada batam sebagai pariwisata de el el de es te….

salam
cakdul
cakdul.blogdetik.com
warungkopicakdul.blogspot.com

Ehmm,jadi seoerti Rep.Afrika Selatan dong cak, mereka ounya 3 Ibukota negara, Cape Town, Pretoria, Bloemfontein

8. Bram - 28 Agustus 2008

Hei gendeng koen..Lapo mbok tulis nang kene
Nanti mengakibatkan gerakan Separatisme dodol….

Gak masalah Bram, inikan blog pribadi….Anjing menggonggong Adit tidak akan ikut menggonggong, karena Adit bukan Anjing…

9. arrevi - 31 Agustus 2008

Ya…
Semoga + keren blognya

Mengenai postingan ini..
Bisa aja sih Surabaya jadi Capital City in Indonesia
Bila ada suatu peristiwa yang membuat ato memaksa semua itu terjadi..

Be… ono Ali yang lain??

Iya…setuju Rev, gak ada salahnya kok kalo kita tiru Afrika Selatan yang punya 3 Ibu kota…Waduh kalo Ali yang laen gak ngert aku…

10. darmo_gandul - 31 Agustus 2008

Assalamualaikum….!!!!!
Numpang ngisi lagi mas……!!!!

Saya sepakat mas, namun perlu dipertimbangkan juga mas beberapa aspek, parameter penentuan layak tidaknya sebuah kota menjadi ibukota suatu negara, misalkan saja historis, geografis yg dibagi lagi dalam tataran geopolitik,sosiogeografi,kultur, dan nilai tawar suatu negara jika ibukotanya dipindah….!!!!

Hehehe jadi ingat si Ikin 2, CUKS (Cinta Untuk Kota Surabaya), ntar istilah ini bakalan diganti total ma “Prabu” Sukolilo jadi Lo ma “Gua”, kan sudah dilempar isu “cak”, biar lebih keren……!!!!!
MAKSUDNYA GUA disini Lek gak Guatel yo Guaplek….!!!!!

Hidup Surabaya…!!!!!!!
VIVAT…..!!!!!

geopolitik,sosiogeografi,kultur, dan nilai tawar. Jadi inget dulu Bandung dan Malang sempet masuk calon kuat ibukota negara… namun karena faktor pengembangan daerah… jadinya mereka kalah…. Tinggal Surabay7a yang belum pernah dicoba….

11. Alfiyan - 31 Agustus 2008

wahhh… ide gila memang… tapi bukankan biasanya hal-hal besar berawal dari “ide gila”???

hmmmm…. 3 alasan di atas Saya kira belum cukup untuk membuat Ibukota pindah.. di atas itu cuma “masalah” standar yang mestinya dapat diselesaikan…. tapi yo dasar para pejabate seng nggak nggenah… :D

Ide gila bisa merubah dunia… Kayak ide gila Aristoteles yang bilang kalau bumi itu datar