30
Apr
08

DIMANAKAH BATAS KEDAULATAN NEGARA KITA??

Sejak kita belajar dibangku Sekolah Dasar (SD), kita pasti sudah diajarkan oleh guru kita tentang letak geografis Indonesia. Indonesia memiliki posisi strategis dalam pemetaan dunia. Dimana lokasi Indonesia diapit oleh dua Samudra dan diiantara dua Benua. Yang menjadi kebanggaan kita saat itu adalah Indonesia merupakan tempat ”singgah” atau Transit kapal-kapal asing yang akan menyebrangi kedua Samudra, dan melewati kedua Benua tersebut.

Tetapi itu dulu..!! Apa yang terjadi sekarang justru sangat tidak relevan dengan kata-kata manis yang diucapkan oleh guru kita beberapa tahun yang lalu. Betapa tidak, masih ingat dalam memori kita lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan, Kasus blok Ambalat, Batas wilayah RI yang berpindah sejauh 2 km di Kalimantan. Tampak jelas kalau apa yang dibicarakan dahulu, sungguh berbeda dengan kenyataan yang sekarang.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, pesawat pengintai Boeing 737 milik TNI Angkatan Udara yang sedang melakukan patroli, tidak sengaja menemukan sebuah bangunan dipulau Mangkudu. Pulau yang terletak ditengah Samudra Hindia tersebut, memang berbatasan langsung dengan negara Australia. Bangunan tersebut menyerupai sebuah apartemen dengan kolam renang dibelakangnya. selain itu, pesawat juga dapat merekam dengan jelas kondisi disana. Bangunan tersebut terlihat belum lama didirikan. diduga kuat pemiliknya adalah warga negara Australia.

Lantas, kenapa baru sekarang mulai terkuak? Apakah ini merupakan bukti bahwa lemahnya sistem pertahanan kita? terlepas dari itu semua, yang jelas kedaulatan Negara ini telah terinjak-injak. Indonesia telah merdeka 62 tahun yang lalu, namun kenapa kedaulatan Indonesia masih saja belum diakui sepenuhnya. Kedaulatan merupakan syarat Mutlak untuk mendirikan sebuah negara selain masyarakat, wilayah, dan pemerintahan.

Kondisi Riil Indonesia

Berbicara mengenai kedaulatan, bisa diibaratkan bahwa kedaulatan merupakan ”harga diri” sebuah bangsa. Jika ”harga diri” tersebut tidak dihormati oleh yang lain, maka siap-siaplah untuk menjadi korban imperialisme modern, neoliberalisme, dan kapitalisme. Tanda-tandanya pun saat ini mulai nampak, buktinya kemiskinan semakin meningkat dari “hanya” 22,5 juta penduduk saat sebelum krisis ekonimi dan membengkak menjadi 78,9 juta saat krisis melanda Indonesia. Selain itu rasio Hutang luar negeri terhadap PDB yang melonjak hingga mencapai sekitar 135%, Rasio hutang luar negeri terhadap ekspor sebesar mendekati 300%.

Sebenarnya Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya. Di Jawa Tengah merupakan daerah penghasil beras dengan kualitas terbaik kedua didunia, kekayaan laut Indonesia telah menyuplai 20% kebutuhan ikan dunia. Papua yang merupakan daerah tambang emas yang cukup besar didunia belum seluruhnya dimanfaatkan, lalu pulau Buton adalah satu-satunya pulau penghasil aspal terbaik didunia, begitu pula di Kalimantan yang keindahan Intannya yang khas dan banyak digemari penduduk dunia.

Indonesia sebenarnya telah men”dunia” dengan kekayaan alamnya. Tetapi, kenapa Indonesia saat ini masih sebagai negara berkembang. Hal inilah yang menjadi PR untuk kita semua. Memanfaatkan kekayaan yang ada sebenarnya tidak sulit, bahkan mudah. Karena Indonesia juga memiliki tenaga-tenaga ahli yang sanggup mengelola kekayaan tersebut. Yang sulit adalah bagaimana caranya agar (sekali lagi) Kedaulatan Indonesia diakui oleh negara lain baik secara de jure maupun de facto. Memang secara de facto Indonesia telah diakui kedaulatannya oleh Internasional terhitung sejak konferensi meja bundar di Den Haag Belanda. Tetapi dengan adanya ”penyaplokan” wilayah serta reklamasi pantai yang dilakukan oleh negara tetangga, telah menjadi bukti sahih bahwa Indonesia secara de jure belum diakui kedaulatannya. Belum lagi kapal-kapal dan pesawat pengintai asing yang dengan diam-diam menyelinap masuk ke wilayah kedaulatan negara Indonesia.

Negara Yang Mandiri

Terkadang sempat terbesit dalam pikiran, mengapa Indonesia tidak meniru negara-negara ”radikal” seperti : Kuba, Bolivia, Venezuela, Argentina, dan Iran. Kelima negara tersebut juga negara berkembang sama seperti Indonesia. Bahkan kalau boleh membandingkan kekayaan alamnya, Indonesia jauh lebih unggul dari keelima negara tersebut. Iran dan Venezuela adalah penghasil minyak(saja) sebagai komoditi eksportnya. Lalu Kuba dan Bolivia mengandalkan hasil Kokain dan Kedelai sebagai andalannya, begitu pula dengan Argentina yang penghasil Tebu.

Namun perbedaan yang paling mencolok dari kelima negara tersebut dengan Indonesia adalah keberanian dan tekad untuk tidak menjadi anggota IMF dan Bank Dunia. Selain itu, kelima negara tersebut juga tidak memiliki utang. Bahkan Argentina, pada akhir Desember telah melunasi hutangnya sebesar 9,8 milliar dollar AS kepada IMF. Sebenarnya kita mampu untuk bernegara secara mandiri, tanpa ada intervensi dari IMF, bank Dunia dan Barat. Kenapa kita bisa? karena kekayaan alam Indonesia amatlah melimpah, dan jika itu semua dapat dikelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara mandiri yang terbebas dari hutang luar negeri.

Apa yang terjadi saat ini adalah justru kekayan alam Indonesia, entah sadar atau tidak telah diserahkan kepada asing. PT freeport yang sejak tahun 1962 dikuasai oleh Amerika sebagai konsesi dari pembebasan Irian Barat. Lalu blok Cepu yang diserahkan kepada Exxonmobil (bahkan mendatangkan Tenaga dari House of Representatives dan Kongres AS untuk membuat Undang-Undang), lalu Uranium di Kalimantan yang dijual sangat murah (Hanya € 0,5/m3)kepada pemerintahan Perancis. Dan masih banyak lagi kekayaan yang dikuasai oleh Asing yang tidak mungkin dituliskan satu persatu disini.

Keberanian untuk berevolusi adalah langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh negara ini. Apa yang direvolusi? yang jelas sistem ekonomi yang perlu dijadikan target utama revolusi. Keberanian Hugo Chaves (Presiden Venezuela) untuk keluar dari Bank Dunia dan IMF, lalu Mahmoud Ahmadinejad (Presiden Iran) dan Fidel castro (presiden Kuba) yang dengan terang menolak Intervensi barat mengenai kedaulatan negaranya sepertinya bisa ditiru. Diperlukan langkah besar untuk memulai itu semua. Tetapi, yakinlah jika kita melangkah bersama, maka langkah yang besar itu akan terlihat mudah dan menyenangkan.

Mari melangkah bersama untuk mewujudkan kedaulatan Indonesia..!!


1 Response to “DIMANAKAH BATAS KEDAULATAN NEGARA KITA??”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

April 2008
S S R K J S M
    Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: