12
Mei
08

KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI

Ini adalah sebuah tulisan tentang opini. Jadi, sepakat atau tidak itu adalah hak pembaca. Namun, terlepas dari itu ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan.

  1. Tahukah anda penyebab terjadinya perang Troya di Yunani?

  2. Tahukah anda alasan Julius Caesar menginvasi kerajaan Mesir?

  3. Tahukah anda siapa yang meminta untuk dibangunkannya Candi Prambanan?

  4. Tahukah anda untuk siapa Taj Mahal di India dibuat?

  5. Tahukah anda penyebab disahkannya UU tentang KDRT?

Kelima pertanyaan tersebut memang tidak saling berhubungan, tetapi ada kesamaan diantara kelimanya. Tahukah anda persamaan dari kelima pertanyaan tersebut? Kelimanya memiliki persamaan pada JAWABANnya. Dan, tahukah anda apa jawaban dari kelima pertanyaan diatas? Benar..!! Jawabannya adalah “SEORANG WANITA”.

Seorang Wanita, dibalik sifat lemah-lembutnya tersimpan suatu kekuatan yang sangat dahsyat, bahkan belum tentu seorang pria mampu melakukannya. Kekuatan wanita terletak pada Pesona dan Kecantikannya. Siapapun Laki-laki, ketika ia melihat kecantikan dan pesona seorang wanita akan merasa kagum terhadapnya. Itulah sebabnya mengapa para pujangga menyebut wanita sebagai Perhiasan Dunia.

EMANSIPASI WANITA

Salah satu persepsi publik paling popular adalah anggapan bahwa makna emasipasi wanita adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Persepsi itu keliru, namun tetap dipertahankan, sampai Menteri Urusan Wanita pun lantang mencanangkannya sebagai pekik perjuangan resmi kaum wanita Indonesia.

Makna emansipasi wanita sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Apabila hak kaum wanita disamakan dengan pria, malah akan merugikan pihak wanita! Sebaliknya, hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan dengan wanita, akibat realita kewajiban masing-masing jenis kelamin dengan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama.

Secara kodrati, meski dipaksakan dengan cara apa pun, kaum pria tidak mungkin melakukan perilaku kodrati wanita, seperti menstruasi, pregnasi, laktasi (datang bulan, mengandung (plus melahirkan), menyusui). Allah memang menciptakan sifat-sifat biologis kodrati pria berbeda dengan wanita.

Keliru sambil merugikan, jika kaum wanita berjuang untuk memperoleh hak yang sama dengan hak pria. Karena berdasar latar-belakang kodrati yang berbeda, di dunia tenaga kerja di Indonesia masa kini, kaum wanita justru memiliki kelebihan hak ketimbang pria, yakni cuti menstruasi, hamil sekaligus melahirkan. Dengan hak cuti dua hari setiap bulan di masa menstruasi, masih ditambah hak cuti tiga bulan = 90 hari di masa hamil dan melahirkan, seorang pekerja wanita malah memiliki kelebihan hak cuti selama: 90 + (12 x 2) = 114 hari ketimbang pria.

Apabila hak pekerja wanita disamakan dengan pekerja pria, maka langsung hak lebih 114 hari itu akan lenyap, demi kerugian wanita. Sebaliknya tidak ada alasan, bagi pekerja pria untuk disamakan hak cuti kodratinya dengan pekerja wanita, akibat latar belakang realita kodrati biologis kaum pria mustahil memenuhi syarat untuk memperoleh cuti. Menggelikan, jika pekerja pria menuntut hak cuti kodrati mereka, misalnya cuti ereksi, atau cuti menghamili, yang secara fisik sebenarnya cukup melelahkan itu. Yang lebih produktif sebenarnya adalah perjuangan agar pekerja wanita memperoleh hak atas imbalan gaji sesuai realita kemampuannya, setara dengan yang diterima pekerja pria dengan kemampuan sama.

Secara kultural, jika hak wanita disamakan dengan pria, juga merugikan wanita! Karena dengan persamaan hak, maka kaum wanita, terutama yang sedang hamil, akan kehilangan hak kultural untuk dilindungi, dan prioritas kemudahan di saat-saat khusus, seperti hak memperoleh tempat duduk yang layak di kendaraan umum, atau hak untuk terlebih dahulu diselamatkan di saat bencana atau kecelakaan, maupun hak untuk memperoleh prioritas kehormatan seperti dibukakan pintu mobil, dipayungi di saat hujan, dan aneka adat istiadat tata kesopanan yang menguntungkan kaum wanita lainnya.

Disamping itu, jika hak wanita disamakan dengan pria, maka sama dengan kita membuat aturan baru yang jelas-jelas sudah ditetapkan dalam Al-Quran. Hak pembagian warisan misalnya. Sudah jelas dipaparkan secara gamblang bahwa bagian dari seorang laki-laki sama dengan dua kali bagian dari perempuan. Apakah ini adil? JELAS.. sangat adil. ALLAH telah menetapkan jumlah warisan untuk laki-laki lebih banyak dari perempuan. Akan tetapi, kewajiban memberi nafkah telah dibebankan kepada laki-laki.

Untuk urusan mengangkat senjata atau jihad. ALLAH hanya mewajibkan kaum Laki-laki saja yang berangkat ke medan perang. Lalu, apakah wanita tidak bisa berjihad? BISA… Dengan mendidik anak-anaknya dan memelihara keutuhan rumah tangga serta mencintai suaminya, sudah termasuk Jihad. Untuk wanita Jihad tidak perlu berangkat ke Medan Perang sambil membawa Senjata.

Seandainya, Hak-hak wanita itu sama dengan Laki-laki, maka kewajibannya-pun juga harus sama. Karena hak adalah sesuatu yang boleh kita terima setelah menunaikan Kewajiban. Jika haknya sama, maka Kewajibannyapun juga harus sama. Kalau kewajibannya sama, apakah :

  • Bersedia jika tidak mendapat cuti saat sedang hamil tua?

  • Bersedia jika diwajibkan mengangkat senjata saat berjihad?

  • Bersedia tidak dinafkahi suami?

  • Bersedia untuk melindungi laki-laki saat terjadi bahaya atau musibah?

Apapun jawaban anda, hal itu sangat manusiawi sekali.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS : AL-Baqarah : 216)

Makna emansipasi wanita yang benar, adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. Sampai kini, mayoritas wanita Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan sektor informal belum sadar atas, apalagi memiliki, hak memilih dan menentukan nasib mereka sendiri, akibat normatif terbelenggu persepsi etika, moral, dan hukum genderisme lingkungan sosio-kultural serba keliru. Belenggu budaya itulah yang harus didobrak gerakan perjuangan emansipasi wanita demi memperoleh hak asasi untuk memilih dan menentukan nasib sendiri.

FENOMENA YANG TERJADI

Memaknai kajian tentang Emansipasi diatas. Saat ini Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan pesat. Seiring dengan kemajuan tersebut, terdapat pergeseran budaya pergaulan di kalangan remaja. Dewasa ini, kebudayaan-kebudayaan dan peradaban-peradaban manusia telah banyak mengalami mutasi dalam bentukan yang tidak lagi orisinil. Ia tengah di-barat-kan (westernized) dan dicongkel dari akarnya sehingga nilai-nilai, kearifan, dan identitas aslinya terkoyak menjadi potongan-potongan kecil yang terkontaminasi dengan produk kebudayaan Barat. Barat telah berhasil mengkristalisasikan sentimen-sentimen, corak-corak rasial, pandangan serta pola pemikiran masyarakatnya ke dalam karakter kebudayaannya dan mencekokkannya kepada bangsa-bangsa lain.

Kalau dahulu, seorang wanita dianggap tabu untuk keluar ber-dua-an dengan bukan mahramnya. Tetapi sekarang, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang harus ditutup-tutupi.

Kalau dahulu, seorang wanita dituntut untuk bisa memasak dan melakukan pekerjaan dapur. Tetapi sekarang, bisa memasak nasi (saja) itu sudah cukup dan pekerjaan dapur biarlah pembantu yang melakukan.

Kalau dahulu, seorang wanita merasa bangga karena mengandung(hamil) buah cinta dengan suaminya. Tetapi sekarang, bahkan ada seorang model terkenal yang secara terang-terangan tidak sudi menjadi seorang ibu.

Kalau dahulu, seorang wanita merasa bangga karena memiliki anak yang cerdas dan pintar. Tetapi sekarang, tidak sedikit yang merasa bangga dengan karir yang dirintisnya walaupun kehidupan rumah tangganya belum tentu se-sukses karirnya.

Itulah fenomena yang terjadi saat ini. banyak diantara mereka yang menggunakan istilah EMANSIPASI sebagai dalih untuk melegitimasi tindakannya. Padahal, emansipasi yang sebenarnya bukanlah seperti apa yang mereka pikirkan. Dan terkadang saya sempat bertanya, Kenapa fenomena itu bisa terjadi???????

Mungkin Jawabannya:

KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI


0 Responses to “KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: