29
Mei
08

BLT = Pendidikan Yang Membodohkan Rakyat

Sebagai upaya pemerintah dalam mengurangi beban masyarakat miskin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menandatangani (Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2008) tentang Pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai untuk Rumah Tangga Sasaran (RTS) setelah memimpin rapat paripurna kabinet selama sembilan jam. Turunnya Inpres tersebut untuk kelancaran pelaksanaan program pemberian bantuan langsung tunai kepada RTS dalam rangka kompensasi pengurangan subsidi Bahan bakar minyak. Dalam Inpres ini yang dimaksud dengan Rumah Tangga Sasaran (RTS) adalah rumah tangga yang masuk kategori sangat miskin, miskin, dan hampir miskin. BLT kepada RTS sebagaimana yang dimaksud dalam Inpres ini berakhir pada tanggal 31 Desember 2008, dikeluarkan setelah sidang kabinet 14 mei 2008. Ini adalah sinyal jelas bagi rakyat, bahwa BBM tetap akan dinaikkan.
Sebenarnya, problem utama dari krisis sekarang ini jelas bermuara pada fakta: melimpahnya kekayaan alam Indonesia, namun tidak sedikitpun tetesannya jatuh ketangan rakyat miskin. Penguasaan asing atas sektor pertambangan kita, dari sektor hulu sampai pada hilir, turut memperberat tekanan pada mengecilnya keuntungan (pendapatan) Negara. Ini ditambah beban biaya produksi yang membuat industri dalam negeri kolaps.
Karena itu sudah saatnya bangsa Indonesia menegaskan kembali kemandirian ekonominya. Kemandirian ekonomi nasional bermakna penguasaan cabang-cabang produksi yang penting –yang mengusai hajat hidup orang banyak– oleh Negara. Penguasaan ini juga mensyaratkan bahwa bumi dan air (beserta kekayaan alam yang terkandung didalamnya) harus dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat. Kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan bangsa-bangsa di dunia, ataupun dengan lembaga internasional, harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan, setara, dan adanya saling pengakuan atas kedaulatan bangsa masing-masing.
Jalan paling tepat untuk menegakkan kedaulatan ekonomi adalah dengan melakukan nasionalisasi (pengambil alihan) perusahaan tambang asing. Menurut Kaukus Migas Nasional, Effendi Sirajuddin, pengalihan lapangan minyak dan gas bumi (migas) asing kepada perusahaan nasional akan menambah pendapatan negara sekitar 200 miliar US$ –yang dihitung dari cadangan migas nasional sebesar 8 miliar barel. Selain itu, dari pembelanjaan barang dan jasa selama ini, Indonesia hanya menikmati 1 miliar dollar AS/tahun (dari 10 miliar dollar AS/tahun ). Dengan pengalihan lapangan tersebut angka pembelanjaan barang dan jasa di sektor migas tersebut dapat dipacu menjadi 9 miliar US$/tahun.
PERTANYAANYA :
Sanggupkah bangsa Indonesia mengelolah dan memanajemen perusahaan tambang yang sudah diambil alih tersebut?
JAWABANNYA :
SANGAT SANGGUP. Dari beberapa syarat-syarat pengambilalihan aset asing oleh pemerintah Indonesia, untuk dijalankan sendiri, yakni: tekhnologi, modal (dana), dan sumber daya manusia, kita sudah memilikinya.
Dalam hal teknologi, pertamina sudah bisa melakukan eksplorasi dan pemisahan (separasi) sendiri. Bahkan biaya investasi yang ditawarkan pertamina lebih rendah ketimbang korporasi asing. Pertamina sudah mengembangkan usahanya seperti yang telah dilakukan sekarang di Myanmar, Vietnam, Irak, dan Libya. Jika menemui kesulitan dalam menjalankan kegiatan operasinya, Pertamina dapat bekerja sama dengan perusahaan minyak Negara lain, seperti: Petrobraz( brazil) dan PDVSA (Venezuela). Di Dubai, Uni Emirat Arab, Pertamina akan merintis proyek trading atau pengadaan barang pertambangan. Soal pendanaan, Indonesia bisa bekerja-sama dengan investor-investor dari Negara lain, dengan prinsip saling menguntungkan dan penghargaan kedaulatan bangsa Indonesia.
Dalam hal kapasitas sumber daya manusia(SDM), Indonesia juga sudah cukup mumpuni. Sebagai informasi saja: sekitar 90% lebih operasional pertambangan domestik dijalankan oleh orang Indonesia. ExxonMobil, salah satu korporasi asing disektor pertambangan, memiliki lebih dari 600 orang pegawai. Hampir 95 persennya adalah orang Indonesia yang bekerja di berbagai bidang (termasuk para senior manager, ahli teknik, ahli geologi, operator lapangan, akuntan, pengacara dan administrator). Karenanya kepeloporan pekerja sektor pertambangan, beserta dukungan dari ahli-ahli dan teknokrat disektor pertambangan, akan menjadi pemicu semangat merebut kembali kekayaan alam bangsa kita.

0 Responses to “BLT = Pendidikan Yang Membodohkan Rakyat”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: