01
Jun
08

EKUIVALENSI NASIONALISME DAN KEISLAMAN

Selama Banteng-Banteng Indonesia masih mempunyai darah Merah

yang dapat membikin secarik kain putih menjadi Merah-Putih

maka selama itu tidak akan kita menyerah kepada siapapun juga…..”

-Bung Tomo-

Selama ini orang-orang menganggap bahwa Nasionalisme dan Keislaman merupakan dua hal yang tidak mungkin disatukan. Ibaratnya seperti Minyak dengan Air yang sulit sekali untuk dicampur. Meyakini Islam berarti langsung menafikkan kebangsaan.

Nasionalisme

Pada massa-massa perang kemerdekaan, setelah Indonesia ”diambil alih” oleh Jepang, para kaum muda melihat adanya peluang untuk segera memerdekakan Indonesia. Setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Sekutu, hanya dalam tempo beberapa hari saja, sejarah besar terukir. Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diyakini sebagai momen kemerdekaan yang paling Heroik diantara negara-negara lainnya. Di India dan Malaysia misalnya, kemerdekaan mereka merupakan ”hadiah” dari negara yang menjajahnya.

Berbicara mengenai kemerdekaan, maka tidak akan terlepas dari proklamator kemerdekaan sang dwi-tunggal Sukarno-Hatta. Sebenarnya perjuangan merebut kemerdekaan tidak dimulai pada era Sukarno. Tidak pula dimulai pada era revolusi industri di Inggris. Akan tetapi sejak ratusan tahun sebelum kemerdekaan. Baru pada era Sukarno-lah akumulasi poerjuangan memuncak.

Namun, setelah itu timbul sebuah pertanyaan. Kenapa kok bisa, hanya dengan 2 orang saja yang membacakan proklamasi. Berani beraninya menggunakan ”atas nama bangsa Indonesia” lagi? Tidak ada yang resah, protes, marah, cemburu, atau bahkan bersumpah serapah tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semua menyambut gembira, bersuka cita, saling berpeluk mesra. Sedangkan perjuangan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Teuku Umar dll tidak mampu mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, yaitu Kemerdekaan. Ada tanda tanya besar dibalik itu semua.

Ternyata salah satu kekurangan dari Pahlawan Nasional yang terdahulu (Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Ngurah Rai dkk) adalah dikarenakan mereka membawa nama GOLONGAN. Bukan membawa nama PERSATUAN BANGSA. Imam Bonjol misalnya, beliau memperjuangkan hukum-hukum Islam dan adat dari tanah Minang yang dilanggar oleh Belanda. Kemudian Pangeran Diponegoro dan Pangeran Antasari juga memperjuangkan atas daerahnya masing masing. Konsekuensinya adalah, perlawanan mereka dengan mudah dikalahkan oleh Belanda. Belum lagi dengan politik Devide et impera atau Politik Adu domba yang mengakibatkan pecahnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat adanya perpecahan umat, dr. Soetomo memprakarsai berdirinya Organisasi Politik Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi inilah yang disebut-sebut sebagai cikal bakalnya persatuan Bangsa sebelum adanya Kongres Pemuda yang menghasilkan ”SUMPAH PEMUDA”.

Ada hal menarik disini, dr. Soetomo adalah seorang Muslim (Cukup taat bahkan). Namun mampu mendirikan sebuah organisasi yang mampu mengakomodir kepentingan politik dari semua elemen bangsa. Lalu Jenderal Soedirman, yang juga seorang Muslim dipercaya menjadi Pimpinan Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang nantinya akan menjadi TNI. Juga Soekarno-Hatta yang mampu membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pertanyaannya :

Mengapa mereka Bisa…???

Jawabannya :

”Karena mereka menggunakan NASIONALISME sebagai landasan geraknya.”

Perasaan senasib dan seperjuangan dirasa sangat pas untuk menggugah semangat kaum negeri. Karena dengan semangat seperti itulah yang mampu menghilangkan segala kluster golongan yang ada. Mungkin orang lain akan berkata : ”Ahh, ngapain kita ikutin perjuangannya Pangeran Diponegoro, lha wong kita ini bukan orang Jawa kok” atau ”Sayakan bukan orang Muslim, ngapain nurutin omongannya Imam Bonjol?” atau ”Saya orang Tiong Hoa Bung…!!! salah alamat kalau anda ngajak saya Gabung”. Perkataan-perkataan seperti itulah yang sangat tidak diinginkan. Bagaimana negara ini mau bersatu kalau tidak ada orang yang bisa menyatukan. Berbeda jika kita menggunakan perasaan senasib seperjuangan. Orang lain akan merasa saling memiliki dan saling melengkapi. Dari rasa saling memiliki itulah nantinya akan menjadi benih-benih persatuan Bangsa.

Sihir Nasionalisme memang sangat berpengaruh. Terbukti dengan semangat yang dibawa oleh kaum nasionalis mampu melahirkan sebuah negara yang bernama INDONESIA. Hal ini tentu tidak lepas dari rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Percaya bahwa orang yang diberi amanah dapat mengembannya dengan baik dan mampu menghilangkan segala bentuk segmentasi yang dapat menimbulkan perpecahan.

Identitas Muslim

Identitas keislaman dalam berbagai mazhab dan pemikiran Islam setidaknya dapat dirumuskan ke dalam tiga elemen penting:

o Tauhid

Setiap Muslim bermula dengan syahadah, pengakuan atas keberadaan dan kemutlakan Tuhan Yang Maha Esa. Namun konsep tauhid tidak terbatas pada sekadar pengetahuan tentang sifat, keadilan, dan ketentuan Tuhan. Tauhid juga meliputi aspek tambahan selain keyakinan, yaitu hidup yang berdasarkan keyakinan itu, serta upaya peningkatan dan perbaikan menuju ke kesempurnaan.

o Syariat

Setelah keyakinan berdasarkan pengetahuan, lahirlah ketundukan dan ketaatan pada aturan-aturan yang digariskan oleh Sang Maha Tahu. Syariat merupakan guidelines bagaimana manusia semestinya menapaki jalan kehidupan dunia ini dengan bimbingan Tuhan; suatu cara formalis menuju perbaikan dan jalan menuju kesempurnaan. Perbaikan diri, dan pemurnian diri melalui jalur syariat merupakan pengakuan atas ketidakmampuan, kebodohan, dan keterbatasan manusia. Syariat karena itu merupakan konsekuensi logis dari Tauhid. Menjalani kehidupan Islami merupakan akibat dari pengakuan atas keyakinan dan pengetahuan tentang Tuhan dan Islam.

o Akhlak

Akhlak merangkum Tauhid dan Syariat sebagai perlambang kebijakan atas pengakuan dan keyakinan serta jalan hidup Islami yang ditempuh. Akhlak merupakan sifat batin yang mapan, melahirkan kebajikan dan kebijaksanaan, dan tercermin pada perilaku.

Ikatan antara ketiganya dapat digambarkan laksana sebuah pohon. Tauhid membentuk akarnya, hukum-hukum dan tata cara syariat menempati ranting dan daunnya, sedangkan akhlak merupakan tunasnya.

Dari ketiga hal di atas muncul tiga konsideran penting:

Pertama, ’menjadi Muslim’ merupakan upaya menempatkan diri dalam suatu kerangka dimana Islam merupakan pandangan hidup dalam makna terluas.

Kedua, identitas Muslim merupakan konsepsi yang melibatkan perilaku sosial. Identitas meliputi aspek sosial si individu dalam hubungannya dengan masyarakat.

Ketiga, Tauhid-Syariat-Akhlak yang saling berhubungan dan merupakan konsekuensi logis, mengisyaratkan suatu identitas yang dinamis dan tidak membeku pada batasan spatio-temporalitas.

Kedinamisan ini juga meniscayakan adanya arahan (direction). Disinilah muncul negosiasi antara teks dan konteks, aksi dan partisipasi, privat dan publik, pribadi dan sosial. Dari sinilah bisa dicoba jawab beberapa pertanyaan awal kita: ‘siapakah yang mesti didahulukan: Islam atau bangsa?

Islam dan Nasionalisme

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS An Nisaa’ :58{4:58})

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS AL Maa’idah : 8 {5:8})

Ekuivalensi antara Keislaman dengan Nasionalisme berawal dari satu kata, yaitu: ADIL. Adil adalah memberikan sesuatusesuai haknya masing-masing, bisa juga menempatkan sesuatu sebagaimana mestinya.

Seorang pemimpin harus berlaku Adil dan Bijaksana. Jika pemimpin dapat berlaku adil, maka kaumnya akan mengikutinya dengan ikhlas. Jika kaumnya sudah mengikhlaskannya, maka negara ini akan bersatu.

Jangan karena seorang pemimpin tidak menyukai suatu golongan lalu bertindak tidak adil dengan cara mencampakkannya. Hal-hal seperti inilah yang harus dihindari, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Jika bangsa ini terpecah, lalu bagaimana jadinya negara ini?


0 Responses to “EKUIVALENSI NASIONALISME DAN KEISLAMAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: