04
Jul
08

FENOMENA DI PARIS VAN JAVA

Study Excursion, dari namanya saja sudah jelas kalau Study Excursion atau SE merupakan suatu kegiatan belajar diluar kampus dengan liburan sebagai acara intinya. Alhamdulillah, saya baru saja pulang SE. SE kami didaerah Banten dan Jakarta. Mulai dari kunjungan pabrik, rekreasi, hingga temu alumni. Setelah selesai kamipun pulang ke Surabaya, kota yang terkenal karena kisah perlawanan heroiknya.

Namun, tidak semua dari rombongan kita yang ikut pulang ke Surabaya. termasuk saya. Kebanyakan dari mereka ada yang langsung kerja Praktek alias KP di daerah Jakarta, Banten, dan sekitarnya. Ada juga yang pulang kampung karena “kampung” mereka di Jakarta. Bahkan ada juga yang tidak mau pulang karena kangen sama teman teman lamanya. Nah, kalau saya sendiri, tidak ikut pulang karena ada salah satu teman saya yang mengajak saya untuk ”Home Stay” di kota yang katanya sebagai duplikat kota Paris atau ”Paris van Java” yaitu Bandung.

Perjalanan dari Jakarta ke Bandungkita tempuh dalam dua jam lebih 30 menit dengan kereta api bisnis. Saya dan dua orang teman saya tiba di Bandung sekitar pukul 21.00, kemudian kami menuju tempat kami untuk ”home stay” didekat BSM alias Bandung Super Mall. Well, dari perjalanan kami inilah saya mulai menemukan beberapa komen untuk Bandung,diantaranya :

1. Suhu udara

Bandung merupakan kota didataran tinggi. Kurang lebih antara 200 sampai 800 mdpl (meter diatas permukaan laut). Namun, saat saya keluar dari gerbong kereta api, suhu udara di Bandung tidak begitu dingin. Tidak seperti apa yang saya bayangkan. Bahkan dibandingkan dengan kota Malang, Bandung mungkin ”lebih hangat” dibandingkan dengan kota yang terkenal dengan sebutan kota Apel itu.

Saya tidak tahu apa sebabnya. Mungkin karena Bandung sedikit lebih rendah dibandingkan Malang atau sekarang sedang masuk musim kemarau. Biarlah ahli meteorologi dan geofisika yang menjawab. Namun saya amat berharap kalau ”hangatnya” Bandung di malam hari bukan dampak dari Pemanasan Global atau Global Warming.

2. Suasananya di malam hari

Saya pergi hang out malam hari sekitar pukul 19.00, saat itu suasana dijalanan Bandung amat ramai. Hampir tidak ada bedanya dengan Surabaya, namun saya belum berani membandingkan dengan Jakarta. Maklum, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur, bahkan jam 2 pagi pun saya masih bisa menemukan orang-orang yang berlalu lalang dikantor di kawasan Menteng.

Saat hang out, kami mampir ke Mall, Bandung Super Mall yang kata teman saya disebut-sebut sebagai Mall terbesar di Bandung. Disini saya hanya ”cuci mata”, tidak membeli barang apapun. Maklum, barang-barang yang dijual dimall harganya selangit (pengaruh Kapitalisme mungkin). Saat makan malam, kami pergi ke emperan untuk makan Mie Ayam khas Bandung. Ditambah dengan Susu+Jahe hangat, jadilah santapan malam yang nikmat.

Sekitar pukul 21.00, kami pulang. Sepanjang perjalanan saya terkejut dengan suasana jalanan Bandung. Kok sepi amat? padahal masih jam 21.00. Ohya hampir lupa, saat itu hari Jumat tanggal 27 juni (musim liburan sekolah kan?). Saya bandingkan dengan Surabaya pada jam yang sama. Keadaannya amat berbeda, untuk ukuran kota metropolitan sebesar Bandung, idealnya pada jam itu masih banyak orang yang berlalu lalang.

Sekali lagi saya tidak tahu mengapa. Mungkin orang Bandung sudah istirahat untuk memulai aktivitas esok, atau mungkinpukul 21.00 keatas merupakan jam malam. Namun saya berharap, semoga bukan karena lesunya perekonomian kota Bandung yang menjadi penyebab utamanya.

3. Makanannya

Bandung terkenal dengan makanan khasnya, mulai dari :(maaf kalau ada salah penulisan) Batagor, Siomay, Bubur Ayam, Oncom, Peyeum, dll. Untuk dua makanan yang disebut terakhir saya belum pernah mencobanya. Untuk Batagor dan Siomay (apalagi Bubur Ayam) sudah cukup sering saya makan, namun kalau saya boleh menilai masakan khas Bandung tidak ada bedanya dengan makanan khas bandung yang dijual di kota lain. Rasanya sama saja, padahal makanan khas daerah akan terasa berbeda jika dinikmati di daerah asalnya. Namun tidak demikian halnya dengan bandung. Pecel Madiun misalnya, cita rasa Pecel Madiun yang dijual asli di Madiun tentu berbeda dengan Pecel Madiun yang dijual di Surabaya. Kalau di Surabaya Pecel Madiun disajikan dengan Rempeyek, sedangkan di Madiun disajikan dengan kerupuk Puli. Jelas terasa bedanya.

Itulah salah satu alasan mengapa saya tidak mencoba Oncom dan Peyeum selain faktor ekonomi (alias kanker atau kantong kering). ”Ah ngapain jauh-jauh ke Bandung kalau di Surabaya ada Oncom dan Peyeum yang rasanya sama dengan yang dijual di Bandung”. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, mungkinkah Bandung itu bukan kota Kuliner. Atau mungkin bumbu rahasia Bandung mudah diduplikat orang lain. Namun saya berharap semoga bukan karena minimnya kreatifitas meracik bumbu.

4. Masyarakatnya

Sudah bukan rahasia umum kalau masyarakat Bandung ramah ramah. Statemen ini dibuat oleh orang orang jawa. Mereka menganggap masyarakat Bandung ramah karena tutur bahasanya yang halus dan sopan. Saya juga membuktikan akan hal itu. Suatu saat saya pergi ke Bandung Indah Plasa (BIP) dan mengamati interaksi antara Juru Parkir dengan pedagang Kaki lima. Walaupun mereka (maaf) tergolong pekerja kasar, namun tutur katanya enak untuk didengar, sopan dan ramah.

Bahasa Sunda memang enak untuk didengarkan. Ada kesan lucu, menarik, menggelikan, bahkan romantis. Hampir mirip dengan Bahasa Perancis. Dialeknya juga mirip bahasa perancis, misalnya kata : Geulis dibaca Gelis, sama dengan kata Bonjour dalam bahasa Perancis yang diucapkan Bonšoa. Mungkin itu sebabnya mengapa Bandung disebut sebagai Paris van Java.

Tingkat kriminalitas di Bandung juga tergolong rendah (statemen ini saya dengar dari saudara teman saya yang berprofesi sebagai Pengacara di Bandung). Beliau mengatakan kalau ”orang jahat” di bandung hampir ”punah”. Misalnya saat malam hari kita berjalan sendirian,(asalkan tidak membuat onar) maka Insyaallah tidak ada yang berbuat jahat. Seandainya seluruh penduduk Indonesia meniru tingkah laku orang Bandung, pasti kestabilan negara akan terjaga.

Saya tidak mengerti kenapa mereka tidak meniru masyarakat Bandung. Mungkin karena tiap daerah memiliki kebudayaan masing masing, atau mungkin masyarakat Bandung adalah masyarakat yang sangat cinta damai. Namun saya berharap semoga Masyarakat Bandung tetap mempertahankan karakternya, walaupun budaya Barat mulai masuk.

5. Pusat Perbelanjaan

Kurang lengkap rasanya kalau pergi ke Bandung tanpa mampir membeli sesuatu. Karena Bandung sebagai salah satu kota Metropolitan di Indonesia, maka tidak heran jika Bandung ditunjuk sebagai pusat Perdagangan. Pusat perbelanjaan dikota Bandung hampir sama dengan kota kota besar pada umumnya, ada Mall, Pasar, Grosir, dan sebagainya. Namun saya tidak akan bercerita tentang Mall disini, karena sudah terlalu umum.

Yang membuat saya sedikit heran adalah Pasar Grosirnya. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau “biasanya” di pasar grosir barang-barang yang dijual antara lain : Barang bekas atau second, barang yang gagal di eksport, barang import gagal, dll. Namun dikota Bandung dengan terang-terangan mereka menyebutnya dengan Barang Bekas atau BaBe. Bahkan ada diantara mereka yang sudah membuka gerai, diantaranya : BABE, RANGKAS, dll. Lalu ada juga yang namanya Cimoll yaitu pusat perdagangan untuk sentra usaha kecil menengah.

Barang-barang yang mereka jual kebanyakan barang asli buatan dalam negeri yang gagal dieksport, ada juga barang import yang cacat. Namun kebanyakan yang dijual adalah barang lokal buatan dalam negeri. saya sempat bertanya dengan salah satu penjual disana: “Bang, kenapa yang dijual disini kok kebanyakan barang bekas?”. lalu si penjual menjawab DENGAN BANGGA : “Bukan hanya Bekas a’, tapi juga barang buatan Bandung. Itulah hebatnya Bandung, barang bekas saja masih laku dijual apalagi barang baru.”

Saya terdiam sesaat mendengar jawaban si Penjual tadi. Dia menjawab dengan penuh keyakinan menjelaskan secara implisit kalau barang buatan Dalam negeri sebenarnya tidak kalah bersaing dengan barang buatan Luar negeri. Dan sayapun membuktikannya, ada dua jenis celana Levis, yang satu asli buatan Bandung dan yang satunya lagi Import dari Amerika. Sama-sama bekas, dan dijual dengan harga yang sama.

Lalu saya kembali bertanya kepada sang penjual tadi,”Bang mana yang laris?” Sang penjual menjawab “Yang asli Bandung a'”. Hmmm…. Ternyata, Indonesia masih memiliki TARING dalam hal FASHION dan MODE dunia. BANDUNG adalah nama TARING tersebut………


5 Responses to “FENOMENA DI PARIS VAN JAVA”


  1. 8 Juli 2008 pukul 5:11 pm

    Beeee….
    Pengeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeenn!!!

  2. 11 Juli 2008 pukul 4:27 pm

    Bandung. Rindu dengan ruh bandung. bener-bener beda bandung itu…!

  3. 3 arrevi
    19 Juli 2008 pukul 10:12 pm

    Assalam
    Be..
    trus hasil Laporan SE-nya mana
    kok isinya cuma karangan narasimu tok… tiwas q nge-click
    Wah.. penipuan nih🙂

    Be.. Menurutmu Bandung dengan Surabaya dingin mana?

  4. 4 aditcenter
    21 Juli 2008 pukul 11:43 am

    Kalo siang dingin Bandung, kalo malam dingin Surabaya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: