03
Sep
08

KENAPA HARUS 450?

Saat ini mulai nge-trend diseluruh perguruan tinggi di Indonesia (baik itu negeri maupun swasta), bahwa salah satu syarat untuk lulus adalah memiliki nilai TOEFL minimal 450. Nilai TOEFL adalah nilai kemampuan seseorang dalam berbahasa Inggris. Kalau jaman dahulu seseorang yang mampu berbahasa Inggris adalah sesuatu yang sangat luar biasa, namun kini seseorang wajib memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Seperti itulah kata Gus Mus.

Gus Mus

Gus Mus

Bahasa Inggris saat ini seolah menjadi komoditi utama seorang calon sarjana (baca:mahasiswa). Kalau di Indonesia seseorang yang mampu ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris dipuja bak seorang Raja, walaupun bahasa Indonesiannya tidak begitu bagus (atau bahkan parah). Akan tetapi jika seseorang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dianggap bukanlah sesuatu yang spesial. Apalagi jika orang yang bersangkutan tidak begitu pandai ber-Bahasa Inggris. Seolah-olah ada bisikan dari luar yang mengatakan : “Dasar ketinggalan Jaman, Bahasa Inggris saja tidak bisa”. Kalau boleh saya berikan contoh, misalnya Cinta Laura. Kita semua tahu kalau Cinta Laura ini bahasanya agak ke-barat-barat-an, namun walaupun suaranya seperti “burung Gagak” masih tetap saja ada yang mengajaknya rekaman lagu.

Terkadang saya heran dengan bangsa Jepang. Seolah bangsa itu tidak peduli akan tuntutan globalisasi yang mewajibkan berbahasa Inggris. Jika anda pernah menonton film ”The Last Samurai”, sang Kaisar Jepang dengan sangat ter-bata-bata berbicara dalam bahasa Inggris. Begitu pula dengan rakyat Jepang, mereka tidak merasa bangga bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik.(paling tidak seperti itulah kata dosen saya yang pernah tinggal di Jepang). Rakyat Jeptakan kedunia lain : ”Kalau anda butuh dengan negara kami, maka pelajarilah bahasa kaniang seolah-olah tidak akan melupakan sejarh budayanya. Dengan bangga mereka ka…!!!”

Kenapa tidak meniru Jepang

Saat kemaren saya berkunjung ke pameran pendidikan Jepang di hotel Sheraton Surabaya, saya benar-benar takjub dengan bangsa Jepang. Saya coba berkomunikasi dengan bahasa Inggris tetapi orang Jepang malah agak bingung karena saya tahu mereka bangga dengan bahasanya sendiri dan disana juga ada pameran budaya Jepang, mereka benar-benar sangat bangga akan budayanya sendiri.

"The Last Samurai"

Salah satu adegan :

Berbeda dengan orang Indonesia yang lebih senang dianggap kebarat-baratn daripada ketimur-timuran. Jujur ketika disuruh memilih, saya lebih suka memilih hidup di Indonesia pada jaman ketika saya masih menginjak bangku SD, nilai kebersamaan dan kegotongroyongan di Indonesia sangat kuat sekali tanpa adanya pengaruh globalisasi dimana Pancasila sebagai dasar negara masih diamalkan dengan cukup baik sehingga kebudayaan barat dapat tersaring dengan cukup baik. Sekarang jangankan mengamalkan, melafalkan Pancasila pun tidak semua orang Indonesia mampu.

Ya, saya juga bingung siapakah yang harus disalahkan dengan semua yang terjadi saat ini. Bahasa inggris menjadi keharusan, karena memang bahasa Internasional yang berlaku di dunia. Bolehlah kita mampu bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris, tetapi kita tidak boleh melupakan darimana asal kita. Itulah yang diucapkan olek kaisar Meiji di scene terakhir film ”The Last Samurai”.

Standar TOEFL 450

Lalu, saat ini sudah banyak perguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta yang mulai menetapkan standar TOEFL sebesar 450. Apakah dengan TOEFL seperti itu sudah dapat mengkategorikan seseorang mampu berbahasa inggris? Saya yakin kurang. Kalau memang menginginkan kemampuan bahasa Inggris, harusnya standarnya bukan 450, melainkan 500. Dan jika tidak perlu bahasa Inggris, kenapa harus mencantumkan sertifikat TOEFL?

Hal inilah yang menyebabkan arah poendidikan kita tidak jelas. Bahasa Inggris memang amat penting dalam era Globalisasi (atau Korporatokrasi?) saat ini. Namun bukan berarti Bahasa Inggris wajib dipelajari. Kemampuan berbahasa asing adalah sebuah kebutuhan, bukan merupakan kewajiban. Kenapa? karena tidak semua disiplin ilmu punya korelasi dengan bahasa Inggris. Saya heran, jangan2 Jurusan Sastra Jawa juga diwajibkan memiliki TOEFL minimal 450.

Kenapa ya, bangsa Indonesia tidak berani berkata :

Jika anda membutuhkan Indonesia, maka pelajarilah bahasa Indonesia


11 Responses to “KENAPA HARUS 450?”


  1. 3 September 2008 pukul 6:31 pm

    sebenarnya saya juga bingung mas…. knpa harus 450……

    tapi mungkin maksud smua perguruan tinggi tersebut agar kualitas pendidikan di Indonesia lebih bagus lagi…. dan supaya keluaran dari perguruan tinggi lebih berkualitas…..

    supaya rakyat Indonesia tidak kliatan katrok jika mendengar orang menggunakan Bangsa Inggris….

    hehehe… 🙂

    Ya itulah Hobi para Birokrat..senengannya Aji mumpung…

  2. 3 September 2008 pukul 11:08 pm

    eh ke jepang juga butuh standar TOEFL lho…
    memang diakui juga bahwa bahasa inggris sebagai bahasa global yang mesti dipahami..
    tetapi kita tidak boleh lepas dari bahasa kita sendiri🙂

    Bahasa Inggris boleh dipelajari, yang tidak boleh adalah mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris…Jika itu sampai dilakukan, maka kebudayaan Indonesia sebagai warisan nenek moyang kita bisa terlupakan.

  3. 5 September 2008 pukul 11:19 am

    setuju denga tulisannya

    Setuju juga……

  4. 4 darmo_gandul
    5 September 2008 pukul 10:19 pm

    Aslkm….!!!!!

    Yah kenapa baru kepikiran sekarang mas buat posting artikel ini…??
    Hehehe jadi ingat si Ikin 2…….!!!!!!! Bahasa asli Indonesia bakal hilang dan berganti bahasa lain….!!!!!

    Inilah akibatnya jika sarjana dipersiapkan untuk komoditi pasar…!!!
    Pastinya ntar dikirim seperti TKI, untuk memenuhi kebutuhan “kuli” di negeri orang!!!!!

    Santai mas adit, aku nang mburimu jeh…!!!OK jeh..!!!OK jeh…!!! OK jeh…!!!!

    Betul…!!! Apalagi sama yang namanya Chincha Lawra… semakin memperburuk citra bahasa Indonesia saja…

  5. 5 ThunkZ
    5 September 2008 pukul 10:24 pm

    Klo gwe sbg orang jawa n perjaka tulen seharusnya tu yang dipentingin adalah bahasa jawa klo bisa yg krama inggil skalian..karena..dirumah gwe tu sering dipake bahasa ntu..klo gwe g make ntu bahasa bs2 gwe g dkasih uang jajan ma buyut gwe…lbih parah lg gwe g dianggap cu2 lg m buyut gwe…hehe…
    Hidup Indonesia…Merdeka….

    Wah..kalo ente dapat istri anak Papua gmana? masak dia juga harus disuruh belajar bahasa Jawa?

  6. 6 Alfiyan
    7 September 2008 pukul 10:02 pm

    Iya… memang kepercayaan diri kita sebagai bangsa Indonesia itulah yang agaknya perlu kita perkuat lagi…

    Betull…masak kita bangsa besar, seperti jadi “kutu” jika bertemy dengan bangsa lain??

  7. 10 September 2008 pukul 9:53 am

    Kenapa skor-nya harus 450…? hm.. mungkin kalo 500 ketinggian dan pada susah lulus nanti mahasiswa-nya🙂 hehe..

    Setuju, kemampuan berbahasa dewasa ini memang menjadi sebuah kebutuhan, baik bhs Inggris maupun bhs Indonesia yang baik.
    contoh simpel menjadi seorang blogger akan sering membuat tulisan, naah kemampuan berbahasa pasti menjadi sangat penting.. bhs Indonesia maupun bhs Inggris😉

    Bahasa itu kebutuhan pokok kalau menurut saya, banyangkan saja kalaukita hidup pada dunia Infrasonik??

  8. 14 September 2008 pukul 12:03 am

    Saya sangat setuju… begitu sering orang mengelu-elukan kemampuannya berbahasa Inggris, tapi begitu jarang orang yang membanggakan kemampuannya berbahasa Indonesia dengan baik. Kalau pun ada, kadang ditanggapi, “bahasa Indonesia sih semua orang Indonesia juga bisa.”

    Kenapa ya, bangsa Indonesia tidak berani berkata :

    Jika anda membutuhkan Indonesia, maka pelajarilah bahasa Indonesia

    Barangkali karena Indonesia memang belum mampu memberikan pengaruh besar bagi dunia, layaknya Jepang. Tapi kalau semangat ini bisa dibangun sejak sekarang, menurut saya, kenapa tidak.😉

    Kalau saya menemui tanggapan seperti itu, saya juga akan membalas : “Bahasa nggris justru lkebih banyak lagi orang yang bisa”…. Go Indonesia

  9. 15 September 2008 pukul 3:25 am

    Gimana ya bang, kenyataannya bisa diterima di INCO sini syarat pertama, si calon karyawan bahkan wajib lancar berbahasa inggris bang. Kalo gak yaa “masih ada yang lain” (lewat maksudnya)
    Karena kenyataannya seperti itu, mungkin boleh saja menguasai english tapi tentu gak boleh lupa tatap harus/wajib mengetahui bahasa sendiri secara benar😀

    Hehehe..Kalo bisa bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan tentu Indonesia, kira2 langsung diterima gak ya Bu??

  10. 10 Aswin Azis
    22 September 2008 pukul 1:37 pm

    Bagi saya mensyaratkan TOEFL dalam kelulusan mahasiswa bukan berarti kita mengagung-agung kan bahasa Inggris.Bahasa Inggris memang sudah menjadi kebutuhan dan membandingkan Indonesia dan Jepang dalam konteks ini adalah tidak adil.

    Posisi Indonesia dan Jepang di dunia internasional sangatlah berbeda. Bahasa Jepang memiliki posisi tawar yang lebih dibandingkan Indonesia mengingat Jepang adalah kekuatan ekonomi kedua terkuat di dunia.

    Banyak cara untuk mencintai bahasa Indonesia dengan tidak harus membenturkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Saya pribadi walaupun menguasai bahasa Inggris secara fasih memilih menghindari penggunaan bahasa Inggris apabila tidak perlu. Saya pun berusaha mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia apabila ada kata dalam bahasa Inggris yg di-Indonesia-kan.

    Menurut saya yang patut kita hindari adalah penggunaan bahasa campur. Menggunakan bahasa indonesia 100% pada saat ber bahasa Indonesia dan sebaliknya bahasa Inggris 100% pada saat berbahasa Inggris adalah cara yang terbaik mencintai dan melestarikan bahasa Indonesia.

    Saya sepakat dengan anda pak…kalau ngomong harus jelas.. English ya english aja..Indonesia ya indonesia aja.. Jangan dicampur2.. emangnya es campur??..

    Tapi kalau masalah posisi tawar Indonesia, saya jadi ingat kalau dahulu bahasa Melayu mau dijadikan bahasa internasional..dan standar bahasa internasional adalah bahasa yang digunakan lebih dari 500jt jiwa (saya rasa ada lebih dari 500jt jiwa yang pakai bahasa melayu)

  11. 27 November 2008 pukul 2:32 pm

    Kalau ditanya kenapa ? sepertinya susah juga untuk dijawab.
    Tapi kemungkinan karena Indonesia terlalu tergantung secara ekonomi. Kalau negara yang menanamkan investasi di Indonesia kebanyakan menggunakan bahasa Inggris yang enggak mungkin juga pake bahasa Indonesia.

    Yang kedua kemungkinan kita belum bangga terhadap budaya dan bahasa sendiri. Anak muda sekarang lebih condong kebarat-barat-an. Dari budaya, tingkah laku, hoby dan banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan itu…

    Ini cuman opini loh mas…

    salam kenal ya.. pengguna baru nih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: