25
Des
08

FATWA 25 DESEMBER

Indahnya Damai

Indahnya Damai

25 Desember, atau 3 hari setelah hari Ibu, atau 7 hari sebelum hari pertama pada tahun yang berbeda, umat Kristiani diseluruh dunia merayakan hari yang konon sebagai hari lahir Isa almasih, yaitu hari Natal. Natal berarti kelahiran, maka perayaan Natal berarti merayakan hari lahir seseorang/sesuatu. Segala sarana publik baik itu pusat perbelanjaan, perkantoran, maupun media massa ikut larut merayakannya. Natal adalah hari raya umat Kristiani, sehingga mereka semua merayakannya, lalu bagaimana dengan umat Muslim?

ROMANTISME SEJARAH

Kedekatan umat Islam dengan pemeluk nasrani sejak dahulu sudah terjalin erat. Bahkan Sholat Gaib (Sholat jenazah yang jenazahnya tidak adsa dihadapan) pertama kali dilakukan Rasullulah SAW adalah untuk Raja Najasyi yang memerintah umat Kristiani. Semasa hidupnya, raja ini pernah memberikan perlindungan kepada umat Islam yang hijrah ke negerinya menghindari kejaran musyrikin Mekkah.

Kita juga menyaksikan bagaimana Umar bin Al-Khattab menerima kunci Al-Aqsha dari pendeta nasrani yang secara penuh tsiqah (percaya) menyerahkannya kepada umat Islam. Bahkan agar tidak menyinggung perasan umat nasrani, Umar menolak untuk shalat di dalam Baitul Maqdis agar tidak disangka merubah tempat ibadah mereka menjadi masjid. Maka dibangunlah sebuah masjid baru di sampingnya dan terkenal dengan nama masjid Umar. Berikutnya, giliran Shalahuddin Al-Ayyubi yang telah memberikan kesempatan kepada tentara salib yang sedang kepayahan untuk merayakan Natal di baitul maqdis.

Jadi dapat disimpulkan kalau sejak jaman dahulu kedekatan umat Muslim dengan umat Nasrani begitu dekat, bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Hidup damai bersama-sama seperti apa yang terjadi di Jerusalem (sebelum adanya gerakan Zionisme Yahudi).

ESENSI KATA SELAMAT

Selamat berarti bebas/lepas dari segala bentuk marabahaya atau segala sesuatu yang tidak diinginkan. Jika mengucapkan selamat, misalnya ”Selamat Pagi” mengandung arti/maksud : ”Semoga kamu terhindar dari bahaya/sesuatu yang tidak kau inginkan pagi ini”. Lalu, bagaimana jika kata yang terucap adalah ”Selamat Natal”?

Banyak perbedaan pendapat yang menyebutkan hukum mengucapkan selamat Natal. Ada yang berpendapat itu sah-sah saja asalkan masih dalam batas yang mampui ditoleransi, namun ada juga yang melarangnya. Sedikit akan saya paparkan alasan mereka yang memperbolehkan mengucapkan selamat Natal. Salah satunya adalah Dr. Quraish Shihab, beliau berlandaskan pada dalil :

Hai Yahya, ambillah Al Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian . Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam : 12-15)

Sedangkan yang mengharamkannya, mereka berpendapat bahwa ayat diatas menyebutkan bahwa ucapan salam sejahtera itu dilimpahkan atas Nabi Isa AS, bukan pada hari lahir, atau meninggalnya. Dan memang tidak dijumpai Dalil maupun Hadist dalam Al-Quran yang melarang/membolehkan umat Muslim memberi ucapan selamat Natal kepada kaum Nasrani.

MENGAPA DIHARAMKAN

Mungkin timbul pertanyaan dalam benak dan pikiran kita, jika tidak ada Dalil maupun Hadist yang mendukung, lalu dari mana fatwa Haram itu muncul? Sebelumnya ada Dalil yang meyebutkan :

Dan orang-orang yang tidak menghadiri Az-Zuur.”(QS. Al-Furqan : 72).

Az-Zuur adalah menghadiri hari raya agama lain atau perayaan orang-orang musyrikin. Sehingga MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan Fatwa bahwa mengucapkan kata ”Selamat Natal” Hukumnya Haram.

Ya..ternyata fatwa Haram keluar dari pernyatan MUI (Majelis Ulama Indonesia) bukan Majelis Ulama Internasional. Atau dengan kata lain, fatwa Haram itu muncul dari mulut ulama Indonesia. Tidak ada unsur underestimate dalam pikiran saya, namun saya melihat ada yang lucu juga…Hehehehehe

Memang dalam Surat Al-Furqan diatas sangat jelas disebutkan kalau menghadiri acara hari raya keagamaan hukumnya adalah Haram. Jadi, jika kita kaum Muslimin hadir dan ikut merayakan Natal di Gereja-Gereja, itu hukumnya jelas Haram. Namun, MUI membuat fatwa yang cenderung over generalisasi alias cenderung menyama-ratakan. Bahkan fatwa itu keluar baru pada akhir dekade 80-an. Lalu sebelumnya bagaimana?

MUI berpendapat dengan mengucap selamat Natal berarti kita juga ikut dalam prosesi peribadatan mereka. Hal ini terasa aneh karena definisi kata ”selamat” seperti yang saya sebutkan diatas adalah ”semoga terhindar dari bahaya/hal yang tidak dinginkan”. Tidak ada sedikitpun yang menjelaskan bahwa dengan mengucap ”selamat” berarti telah ikut dalam proses peribadatan.

kata ”Selamat Natal” berarti bisa diartikan sebagai : ”Semoga kau terhindar dari bahaya/hal yang tidak kau inginkan dalam merayakan Natal.” atau bahasa kerennya : ”Kau mau Merayakan Natal? yaa Silahkan….” Begitulah arti kata ”Selamat Natal”. Dan saya rasa ini bentuk toleransi kepada kaum beragama lain seperti yang ditunjukan umat Muslim padfa jaman Rasullallah SAW.

SIAPA MUI ?

Dengan dikeluarkannya fatwa haram dari MUI, lau timbul pertanyaan dalam benak kita. Siapa MUI itu? MUI adalah perkumpulan ulama yang tersebar diseluruh Indonesia. Indonesia? yaa..Indonesia, bukan Dunia. Mungkin bisa jadi fatwa Haram mengucap Natal hanya ada di Indonesia.

Saya jadi teringat beberapa bulan yang lalu MUI mengeluarkan fatwa haram (lagi) bagi mereka yang Golput..Huahahahahha…. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar fatwa yang cenderung Humor seperi itu. Betul juga apa yang pernah diukatakan Gus Dur. Jika MUI mengeluarkan fatwa secara asal, lebih baik MUI dibubarkan saja.

Saya heran, jangan-jangan MUI mengeluarkan fatwa Haram ada kepentingan politis. hoi pak Kiai yang duduk di MUI…!!! Tugas utama Ulama adalahBerdakwah mengajarkan Syariah. Bukan ikut-ikutan dalam kepentingan politis. Ahh kalau gitu saya ikut daftar jadi anggota MUI sajalah, kan enak sambil mengeluarkan fatwa, berpolkitik juga oke… Hehehehe.. Ada yang tersinggung? Saya malah senang…Hahahhha


6 Responses to “FATWA 25 DESEMBER”


  1. 26 Desember 2008 pukul 4:07 pm

    pertamax dulu yaa biar gak kesalib hehe😀

    ————————————————-
    Yuuuukk…….

  2. 26 Desember 2008 pukul 4:29 pm

    Setiap hari raya besar Islam, teman2 yang non muslim justru lebih duluan mamberi selamat. Tentu sebagai manusia saya juga merasa bahagia dan merasa istimewa ketika merek non muslim begitu menghargai hari besar muslim. dan sebagai rasa kebersamaan dan pertemanan saya juga membalas ucapan mereka saat merayakan natal. Bagi saya yang penting niatnya. saya hanya memberikan kata selamat (dalam hal ini bermakna seperti tsb diatas), sebagai hablumminannaasnya (setau saya tdk ada tambahan yang mengatakan hanya kepada yg seiman). Saya tidak merasa mengikuti ajarannya hanya dgn memberi kata selamat. Dan dgn perilaku seperti ini menjadikan saya dan teman2 semakin dekat dan perduli satu sama lain dan sangat saling menghormati keyakinan masing2
    semakin tidak khawatir saat mendengar pernyataan Dr. Quraish Shihab (waktu itu ngikutin ta’siahnya di channel metro). Selebihnya saya pasrahkan kepadaNY dialah yang Maha Mengetaui.

  3. 3 NiLa
    9 Januari 2009 pukul 12:50 pm

    “Tugas utama Ulama adalah Berdakwah mengajarkan Syariah. Bukan ikut-ikutan dalam kepentingan politis”…. i’m quite disagree..
    ——————————————————————————————–
    Disgree what??? gak setuju kalo Ulama ikut2an berpolitik?? kalo aku sudah bukan Disagree lagi tapi sudah Hates

  4. 4 NyLa
    18 Januari 2009 pukul 10:02 pm

    ma statement-mu.. disagree… ga mslh klo ulama ikut berpolitik.. islam gbs dipisahkan dari politik.islam ngatur sgala lini kehidupan.Politik jd bagian dari kehidupan.tp politik jmn skg g berkepribadian islami so keliatannya kok ga pantes bgt ya agama dikaitkan ma politik (ati2 sekuler aja klo dh kyk gini..). Rasulullah kan juga berpolitik.Beliau politiknya islami bgt.Politikus handal wes.. baca aja sejarah rasul..
    hmm.. ilmuQ ga sebrapa siy..tp,menurutq c gt…

    —————————————————————————————–
    Politik disini menurutmu apa? Politik memang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan, tidak saja dalam kehidupan beragama. Namun…..kalau politik yang kamu maksud disini adalah politik praktis, oh jelas sekali itu harus dipisahkan dari kehidupan beragama. Rasulullah memang politikus handal, tetapi beliau tidak pernah berpolitik praktis. Karena jika beliau berpolitik praktis (mendirikan partai misalnya), aku yakin kalau umat Islam saat itu sudah bercerai berai.

  5. 5 Undeng
    24 Januari 2009 pukul 11:32 pm

    pernah saya dengar dari ustad atau penceramah di mesjid2 soal pesan Rasullulah SAW kalian akan selamat dunia akhirat jika berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah Rasul, saya kira jelas sudah jika dikaitkan dengan soal politik atau boleh dibilang soal dunia kalu berpegang pada aturan Al Quran dan Sunnah Insya Allah kita semua selamat, tentunya berpegang teguh harus benar-benar segenap jiwa raga tidak setengah-setengah menjalankan amanah Rasul SAW tadi….

    ——————————————————————————————–
    Lebih baik berpegang pada Al-Quran dan Hadist dari pada berpegang pada MUI….

  6. 21 April 2009 pukul 9:07 pm

    Lebih baik berpegang pada Al-Quran dan Hadist dari pada berpegang pada MUI….

    SETUJU
    ——————————————————————
    Setuju……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: