22
Jan
09

PENGADERAN SETENGAH TIANG

Pengaderan Setengah Tiang

Pengaderan Setengah Tiang

(sebuah Drama)

Apa yang ada dipikiran anda saat mendengar kata “pengaderan” (yang betul pengaderan, bukan pengkaderan)? Berikut ini adalah cuplikan/naskah drama antara dua anak manusia yang masih peduli dengan yang namanya PENGADERAN.

BABAK I

Definisi dan Tujuan Pengaderan

Aditya :”Assalamualaikum… Rahman..”

Rahman :”Alaikumsalam..Eh Adit, apa kabar Dit? Lagi sibuk apa sekarang? Sombong kamu ya, sekarang jarang nongol di kampus. Ngapain aja?”

Aditya :”Hahahaha.Man..man..kamu itu kayak gak ngerti kesibukanku aja. Biasa, lagi mikirin pengaderan di kampus kita ini. Sekalian ngerjain bisnis sambilan. Hehehehe”

Rahman :”Apa? Pengaderan? Gak salah denger ni aku?

Aditya :”Iya..pengaderan. Kamu gak salah denger kok”

Rahman :”Emang menurutmu pengaderan itu apa?”

Aditya :”Ooo..itu. Gini man. Pengaderan berasal dari kata dasar kader yang berarti generasi penerus atau calon pengganti. Jadi definisi pengaderan adalah suatu proses yang sistematis. Sekali lagi sistematis. Yang diberikan kepada seorang kader untuk menjadi generasi penerus kita.”

Rahman :”Oo..gitu..Terus, tujuannya sendiri apa? Suatu proses yang sistematis kan pasti punya tujuan kan?”

Aditya :”Betul Man..Tujuannya adalah apalagi kalau bukan mendapatkan kader, disamping bisa juga disisipi pembentukan mental dan karakter.”

Rahman :”Kalau gitu, pengaderan tergantung dari subjek yang melakukannya dong??”

Aditya :”Iya betul. Tergantung siapa yang melakukan prosesi itu. Kalau yang melakukan HMJ maka nantinya akan jadi kader milik HMJ. Kalau GAM juga akan jadi kader GAM. Nah kalau Rektorat…….”

Rahman :”Jadi kader Rektorat dong…” <langsung menyahut>

Aditya+Rahman :”Hahahahaahahahahaha……….!!”

BABAK II

Kondisi Kampus Kita

Rahman :”Aku sendiri juga bingung nih Dit, sama kondisi kampus kita.”

Aditya :”Emang bingung kenapa?”

Rahman :”Kaderisasi dikampus kita ini. Entahlah, ini salah siapa. Namun kalau aku amati dari tahun ke tahun, kaderisasi yang kita jalankan selama ini kok semakin mengalami degradasi ya..”

Aditya :”Degradasi maksudnya gimana?”

Rahman :”Gini Dit. Ambil contoh saja PMT di jurusan. Saat kita masih Maba dulu PMT formatnya 4-2-2 plus camp. lalu tahun berikutnya direduksi menjadi 4-2 saja. Kemudian hanya 4 hari. Dan yang kemarin ini formatnya ½-½-1-1. Bayangin PMT hanya 3 hari bro…!!!”

Aditya :”Ya..ya..aku tahu itu.”

Rahman :”Nah, ini kan jelas merubah alur kaderisasi yang sudah dibuat jauh hari sebelumnya. Akibatnya dengan adanya perubahan seperti itu, kaderisasi jadi tidak berjalan seperti yang diinginkan. Sehingga kader-kader nantinya tidak akan tumbuh seperti harapan. Tongkat estafet bisa berhenti kalau begini terus.”

Aditya :”Betul Man. Namun, hendaknya kalau kita menyadari kondisinya seperti itu harus sudah dipersiapkan antisipasinya. Semacam Plan B gitu lah.”

Rahman :”Nah, itulah yang belum sempat terpikirkan. Terkadang kita terlalu serius menggodok prosesi kaderisasi yang ideal, namu lupa menyiapkan antisipasi kalau ada faktor X yang menghambat.”

Aditya :”Hmmm….Jadi ingat IW”

Rahman :”IW…betul, aku juga ingat IW 2008. Jaman kita dulu namanya masih BI (Bhakti ITS). namun yang jadi permasalahan disini bukanlah pergantian nama itu. Tapi kenapa IW kok ditiadakan?”

Aditya :”Bukan ditiadakan, tapi ditunda dalam jangka waktu yang tak ditentukan.”

Rahman :”Terserahlah apa namanya, namun pihak penyelenggara IW dinilai gagal dalam merencanakan IW.”

Aditya :”Ya maklumlah..Lha wong penyelenggaranya bukan Event Organizer (EO). Kalau penyelenggaranya EO kan ada kesan IW nanti asal jadi aja. tanpa ada proses kaderisasi didalamnya.”

Rahman :”Oo..jadi menurutmu penundaan itu dikarenakan apa?”

Aditya :”Menyusun strategi baru. Jadi pihak penyelenggara menyadari akan adanya kekurangan dalam IW, sehingga dirasa perlu untuk melakukan konsolidasi lebih lanjut terkait kedepannya.”

Rahman :”Tapi, bukankah dengan adanya penundaan itu, kita jadi kehilangan momentum?”

Aditya :”Hehehe..menurutmu momentum itu apa sih?”

Rahman :”Waktu yang tepat.”

Aditya :”Itu saja? Wah, kalau gitu terlalu sempit sudut pandangmu Bro…Momentum itu bukan sekedar waktu. tapi juga tujuan. Untuk mencapai tujuan, diperlukan waktu yang tepat. Ingat bro..menyatukan perbedaan itu tidak bisa dilakukan dalam waktu 3 hari.”

Rahman :”Terus..”

Aditya :”IW hanya tools untuk membuat keintegralistikan di ITS. Bukan sebagai harapan. Kita jangan menaruh banyak pada IW. Percuma saja kalau IW berjalan dengan baik, namun siklus kaderisasi berhenti sampai disitu.”

Rahman :”Sepakat. Namun, sayang kalau IW ditiadakan.”

Aditya :”Ya..sayang sekali, makanya kita semua harus berusaha agar IW itu tetap ada. Kalau sampai ditiadakan, berarti kita telah kehilangan Tools. Analoginya, kita maju ke medan perang tapi senjata kita hilang. Memang masih ada kemungkinan kita menang tanpa senjata, namun akan lebih besar peluang menangnya kalau senjata ditangan kita lengkap.”

Rahman :”That’s right Brother…..!!! Ngomongin peperangan aku jadi ingat game Age of Empire II, dimana disitu ada peperangan yang mengharuskan kita menewaskan raja musuh. Jadi, kita memimpin suatu kerajaan, namun raja tersebut jangan sampai tewas.”

Aditya :”Hehehehe…ternyata game juga perlu naluri seorang pemimpin suatu organisasi ya!!! Dan mengharuskan kita tahu cara mengatur suatu organisasi”

Rahman :”Iya, betul. Di kampus kita ada juga lho, pelatihan yang khusus mendidik calon-calon pemimpin organisasi. LKMM-TM namanya.”

Aditya :”Gimana kabarnya TM?”

Rahman :”Yah…sedikit mengalami penurunan dari segi kuantitas.”

Aditya :”Apa sebabnya?”

Rahman :”Kurang tahu persis, bisa jadi para calon peserta sudah tidak lagi berminat.”

Aditya :”Bukankah TM itu juga masuk serangkaian proses kaderisasi?”

Rahman :”Ya iyalah..dan kamu tahu sendiri kan gimana kondisi kaderisasi di kampus kita ini. Barusan kita omongin.”

Aditya :”Aku nggak habis pikir, ada apa dengan mereka. Yang aku khawatirkan, kalau kaderisasi saja peminatnya sedikit, maka yang mau memikirkan kaderisasi juga akan sedikit. Nah kalau itu dibiarkan terus-menerus, jangan heran kalau kaderisasi dikampus kita ini mati.”

Rahman :”Kalau misalnya itu terjadi. Terus, solusinya apa bro…….?????

Aditya :”Mungkin solusinyaaa……….”

<Aditya dan Rahman saling berpandangan, seolah mereka telah menemukan solusi yang sama….>

BABAK III

Solusinya

Aditya+Rahman : ”BUBARKAN SAJA KM-ITS…!!!”


2 Responses to “PENGADERAN SETENGAH TIANG”


  1. 4 Februari 2009 pukul 10:49 pm

    hehhee… ampe ngulang2 baca judulnys nya, kirain salah tulis
    .. solusinya yaa AdityA dan Rahman aja yg menkaderkan diri, jentle gitu loh… memberi contoh pada yang lainnya

    ———————————————————————————-
    Sip…bener bu…

  2. 14 Februari 2009 pukul 10:49 am

    pengaderan.. yang selalu diartikan sempit oleh sebagian orang..

    kenapa smakin takut?? kenapa semakin mundur??

    karena sebuah MENTALITAS payah yang takut akan uang dan hanya mementingkan nama besar,,

    bangsa ini g akan maju jika generasi penerunya semakin terjajah dengan HAK ASASI MANUSIA…

    suckss HAK ASASI MANUSIA..

    —————————————————————————————–
    wah jangan gitu nro…entar kamu dimarahin Munir lho…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: