08
Feb
09

KRISIS KEPEMIMPINAN KAH?

demo

Seluruh media massa baikm cetak, maupun elektronik ramai-ramai memberitakan tewasnya ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz Angkat. Sungguh sangat memprihatinkan, karena tewasnya karena serangan jantung saat sedang didemo oleh ratusan mahasiswa. Tapi konon kabarnya, aksi tersebut tidak murni dari kalangan mahasiswa, namun ada juga unsur masyarakat. Nah yang jadi masalah adalah siapakah unsur masyarakat yg dimaksud? Jangan-jangan aksi tersebut telah ditunggangi?

Peran Intelektual Muda

Intelektual muda, mendengar istilah ini jadi ingat Mahasiswa. Konon katanya mahasiswa adalah kaum intelektual, konon katanya mahasiswa adalah Biang perubahan, konon, konon, dan konon…. Kira-kira seperti itulah ungkapan banyak masyarakat setelah melihat aksi brutal yang dilakukan mahasiswa. Masyarakat langsung berpendapat kalau mahasiswa tukang bikin onar, masaiswa liar dan tidak bisa dikendalikan.

Efek dari peristiwa tersebut adalah semakin hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa. Jika pada akhir dekade 90-an, mahasiswa begitu disanjung dan dipuja, namun kini sepertinya harus menuai banyak hujatan. Walaupun tidak semua mahasiswa melakukannya. Namun, keadaan berbicara lain. Kepercayaan masyarakat harus dibayar mahal dengan aksi anarkis tersedbut. Jika sudah tidak ada lagi yang dipercaya masyarakat, lalu mau percaya kepada siapa lagi mereka?

Apa sebenarnya peran mahasiswa sebagai kaum intelektual muda? Apa saja bisa dilakukan, asalkan tujuan akhirnya adalah mengontrol dinamisasi bangsa.  Key word disini adalah mengontrol. Mengontrol bisa diartikan : memberi masukan, kritik, saran, atau yang lain, dengan tetap memegang teguh norma dan aturan yang berlaku.

Dalam kasus ini, nampak jelas sekali kalau mahasiswa sulit mengontrol emosinya. Memang yang diperjuangkan juga bukanlah masalah sepele (pembentukan propinsi Tapnuli Utara), namun bukan berarti kita mengindahkan aturan to?

Krisis Pemimpin

Berkaca dari peristiwa ini, Indonesia semakin menahbiskan dirinya menjadi negara yang krisis akan pemimpin. Pemimpin yang bisa dipercaya mengemban amanah. Contohnya saja proses pencopotan Kapolda dan Kapoltabes Medan oleh Kapolri. Disini semakin nampak kalau mencari kambing hitam sudah menjadi budaya. Dan sayangnya budaya itu tetap dilestarikan.

Saya jadi teringat pada akhir 2008 lalu, Menteri perhubungan Jepang Nariaki Nakayama mengundurkan diri. Hanya dikarenakan dia salah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Nampak disini Budaya tanggung jawab sudah mengakar di urat nadi masyarakat Jepang. Saya sempat berpikir, kira-kira kapan ya, Indonesia punya pemikiran seperti ini?

Lalu, ada juga cerita yang sempat saya dengarkan dari pak Nanang salah seorang anggota KPK. Beliau bercerita, pada suatu malam beliau melewati sebuah hutan di Finlandia dengan Taksi. Begitu ada Traffic Light, sopir taksi itu langsung berhenti padahal tidak ada seorang-pun/kendaraan yang lewat. Lalu pak Nanang bertanya kepada sopir Taksi : “Kenapa berhenti?” lalu jawab sopir taksi : “Kalau saya terus jalan, berarti saya telah melanggar Hukum dinegara ini yang sudah dibuat ratusan tahun yang lalu.” Subhanallah.

Dari dua ilustrasi diatas, dapat disimpulkan kalau pemimpin saat ini adalah pemimpin yang harus berani bertanggung jawab dan mentaati aturan yang telah berlaku. Bukan bertindak Anarkis yang dapat menyebabkan orang lain merasa dirugikan. Betul?


3 Responses to “KRISIS KEPEMIMPINAN KAH?”


  1. 10 Februari 2009 pukul 4:37 pm

    oh, saya ikut berduka cita atas terbunuhnya dprd sumut dalam aksi tersebut.hemat saya untuk menjadi seorang pemimpin itu memang dituntut harus sehat jasmani dan rohani. real sajalah.kalau kondisi fisik dan mental tidak memadai, gak usah jadi pemimpin!suharto yang yang ‘kebal’ ,katanya, tidak sanggup menahan amukan massa. apalgi seorang abdul aziz yang jantungan.satu,jangan selalu menyalahkan orang atau pihak lain.jka tidak sehat badan dan jiwa gak usah sok2an ingin meminpin bangsa ini.urus sajalah diri seindiri dulu. tidak hanya itu, kesehatan diri, trutama jiwa dan hati sangat menentukan kemajuan bangsa ini ke depannya, agar tak semakin meningkatnya orang indonesia korupsi dan mengurangi ‘hobi’ latah tersebut. ini termasuk syarat jadi pemimipin…(idealnya bagi saya…)
    ———————————————————————————————————–
    Bangsa Indonesia hobi Latah?? Hmmm…penuh makna nih statemennya….

  2. 2 ardy
    27 Maret 2009 pukul 8:50 pm

    Salah satu kriteria pemimpin memang memiliki kondisi fisik yang bagus (kalo yang saya lihat dari tokoh idola saya, Muhammad SAW). Selain itu masih banyak daftar yang harus dipenuhi. Tanggung jawab mah uda kudu banget itu, yang lainnya juga adlaah bisa jadi Tauladan. Kalo yang saya liat, pemimpin2x di Indonesia masih susah dicari yang kurang lebih lengkap fisik dan mental serta kemampuannya baik. Jadi kesimpulannya… siapin diri sendiri untuk memimpin bangsa kita kelak !
    ——————————————————————————
    Sepakat mas Ardy…

  3. 9 Februari 2012 pukul 10:50 am

    From all the blogs Ive read lately, this undivided seems to be the most affecting it gave me something to come up with about.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: