10
Jan
09

PENDIDIKAN BERBASIS JUAL-BELI

Jual-Beli pendidikan

Jual-Beli pendidikan

Pendidikan kok dijual??

Pendidikan kok dijual??

Pernah mendengar kata Pasar? Saya yakin pasti sudah. Pasar adalah tempat untuk menjajakan jual-beli barang. Kalau orang ekonomi bilang, pasar itu ada dua macam Pasar konkrit dan pasar modal. Ah,entahlah saya tidak akn membahas definisi pasar disini. Biar orang ekonomi saja yang memikirkannya. Namun, dari pendefinisian kata pasar ada sebuah key word yang ingin saya kritisi, yaitu : jual-beli.

Paradigma Pendidikan

Manusia diciptakan sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Sehingga manusia memiliki dua peran sekaligus yang diemban, yaitu sebagai manusia yang mandiri dan juga sebagai manusia yang berinteraksi dan saling membutuhkan individu yang lain. Sehingga manusia mutlak memerlukan sosialisasi. Bersosialisasi merupakan jalan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaannya. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan tidak dapat tumbuh mencapai tingkat kemanusiaan-nya yang tertinggi.

Sedangkan pendidikan sendiri adalah proses seseorang/golongan untuk membuat menjadi bisa dari awalnya yang belum bisa. Sehingga boleh dikatakan kalau pendidikan adalah proses belajarnya seseorang. Oleh karena itu, pendidikan merupakan wadah/media yang sangat penting dalam bersosialisasi. Karena dengan proses belajar itulah manusia menjadi paham akan posisinya sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial.

Jual Beli Pendidikan

Pada prinsipnya, jual beli itu halal (Jelas, yang haram adalah Riba). Jual-beli akan sah jika ada penjual dan ada pembeli, ada Ijab dan Qabul, serta didasarkan asas sama-sama untung alias tidak ada yang dirugikan. Prosesi jual-beli akan gugur jika salah satu dari ketiga komponen diatas tidak ada.

Lalu, apa kaitannya jual-beli dengan pendidikan? Memang secara tersurat, pendidikan bukanlah proses jual-beli. Namun pendidikan adalah sebagai komoditas jasa bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan berbagai strata sosial. Tidak peduli apapun latar belakang ekonominya, apakah dia konglomerat atau sang melarat. Pendidikan harus dapat dinikmati oleh mereka semua.

Pernahkah kita berpikir kalau poendidikan di Indonesia (disadari atau tidak) telah membuat adanya jrang pemisah antara si-miskin dan si-kaya? Saya ambil contoh konkritnya saat ada lowongan pekerjaan di koran. Biasanya pada hari Sabtu atau Minggu, media media cetak banyak sekali memuat iklan tentang “Job Vacancy”. Tidak sedikit pembaca yang tertarik untuk membaca, siapa tahu dirinya beruntung ada perusahaan yang membutuhkan tenaganya. Apalagi saat ini media komunikasi maupun informasi sudah begitu canggih, selain media cetak banyak pula tersedia media elektronik seperti Radio, televisi, maupun situs situs di Internet.
Seringkali dalam setiap iklannya, disertakan tingkat pendidikan terakhir yang telah ditempuh. Misalnya : minimal D3 atau S1, minimal IPK ≥ 2,75 dan sebagainya. Terkadang, sempat terbesit dalam pikiran ini, apa jadinya jika ada seseorang yang belum mengenyam bangku pendidikan tinggi atau si-miskin tadi membaca iklan ini? Pasti dia kecewa. Lalu, siapa yang harus dipersalahkan? Entahlah, tapi yang jelas saya tidak setuju jika orang tersebut dijadikan kambing hitam. Kenapa? Karena pendidikan disini tidak gratis bung!! Bahkan Mahal…!!! Anda harus mengeluarkan beberapa rupiah untuk dapat merasakan pendidikan tinggi. Beda kasus lagi kalau orang tersebut memang benar benar malas atau tidak ada niat untuk belajar.
Itupun jika tujuan akhir pendidikan adalah untuk kepentingan ekonomi. Jadi, kesimpulannya jika anda menginginkan kehidupan ekonomi yang “agak” mapan, maka anda harus berpendidikan setinggi-tingginya. Tentu saja tidak gratis, karena pendidikan di Indonesia berbasis jual-beli.
Dan seandainya tujuan utama dari pendidikan itu adalah untuk menjadikan manusia paripurna sesuai dengan kodrat rohaninya, maka kesimpulannya berubah menjadi : “Jika anda ingin menjadi manusia yang bermartabat, maka anda harus berpendidikan setinggi-tingginya.”
Terkadang saya iri dengan Jerman. Negaranya Adolf Hitler tersebut mampu merubah wajah pendidikan negerinya. Jerman sadar kalau pendidikan adalagh manifestasi yang amat berharga bagi rakyatnya, sehingga pemerintahan Jerman meng-gratiskan pendidikan dari berbagai jenjang (mulai jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi). Saya juga punya pertanyaan yang sangat klise, apa sih yang menyebabkan pendidikan di negeri ini tidak gratis?

Kaji Ulang Tujuan Pendidikan
Suatu saat saya sempat menyusun suatu modul pelatihan, pelatihan tentang bagaimana memanajemen sebuah kegiatan. Saat mencapai bahasan TUJUAN, saya berhenti sejenak memikirkan pendidikan kita. Saya bertanya dalam hati kemana arah pendidikan kita sebenarnya? Apakah untuk memenuhi kebutuhan pasar? Apakah untuk memenuhi kebutuhan manusia secara kodrati? Apakah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah untuk memajukan martabat bangsa ini?
Jika pendidikan ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa danmenjadikan negara menjadi lebih bermartabat, maka sistem pendidkan di Indonesia harus diubah. Namun, jika pendidikan ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, maka dapat disimpulkan kalau pendidikan di Indonesia ini berbasis jual-beli. Karena untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Apalagi dengan disahkannya UU-BHP yang semakin membuka kesempatan pendidikan untuk dijual belikan. Semakin jauh dari cita-cita negara sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yakni : Mencerdaskan kehidupan bangsa. Ya RABB, saya tahu Kau tidak akan menguji suatu kaum jika kaum tersebut teramat sangat Dungu-nya…


0 Responses to “PENDIDIKAN BERBASIS JUAL-BELI”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Anda Pengunjung ke-

  • 56,510

Tanggal Hijriah

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Uang adalah Waktu

Arsip

ARTIKEL BIDANG

Statistik Pengunjung

free counters

Prakiraan Cuaca


%d blogger menyukai ini: